Sejarah Purwakarta

  • SEBELUM MASA PENJAJAHAN

    TATA PEMERINTAHAN DAERAH PADA MASA SEBELUM PENJAJAHAN BELANDA

    Keberadaan Purwakarta tidak terlepas dari sejarah perjuangan melawan pasukan VOC. Sekitar awal abad ke-17 Sultan Mataram mengirimkan pasukan tentara yang dipimpin oleh Bupati Surabaya ke Jawa Barat. Salah satu tujuannya adalah untuk menundukkan Sultan Banten. Tetapi dalam perjalanannya bentrok dengan pasukan VOC sehingga terpaksa mengundurkan diri.

    Setelah itu dikirimkan kembali ekspedisi kedua dari Pasukan Mataram di bawah pimpinan Dipati Ukur serta mengalami nasib yang sama pula. Untuk menghambat perluasan wilayah kekuasaan kompeni (VOC), Sultan Mataram mengutus Penembahan Galuh (Ciamis) bernama R.A.A. Wirasuta yang bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III untuk menduduki Rangkas Sumedang (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura, Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke Galuh dan wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi Karawang karena kondisi daerahnya berawa-rawa (Sunda: “Karawaan”).

    Sultan Agung Mataram kemudian mengangkat putera Adipati Kertabumi III, yakni Adipati Kertabumi IV menjadi Dalem (Bupati) di Karawang, pada Tahun 1656. Adipati Kertabumi IV ini juga dikenal sebagai Panembahan Singaperbangsa atau Eyang Manggung, dengan ibu kota di Udug-udug.
    Pada masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putera Panembahan Singaperbangsa yang bergelar R.A.A. Panatayuda I antara Tahun 1679 dan 1721 ibu kota Karawang dari Udug-udug pindah ke Karawang, dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah antara Cihoe (Cibarusah) dan Cipunagara. Pemerintahan Kabupaten Karawang berakhir sekitar tahun 1811-1816 sebagai akibat dari peralihan penguasaan Hindia-Belanda dari Pemerintahan Belanda kepada Pemerintahan Inggris.

  • MASA PENJAJAHAN

    TATA PEMERINTAHAN DAERAH PADA MASA PENJAJAHAN BELANDA

    Antara tahun 1819-1826 Pemerintahan Belanda melepaskan diri dari Pemerintahan Inggris yang ditandai dengan upaya pengembalian kewenangan dari para Bupati kepada Gubernur Jendral Van der Capellen. Dengan demikian Kabupaten Karawang dihidupkan kembali sekitar tahun 1820, meliputi wilayah tanah yang terletak di sebelah Timur kali Citarum/Cibeet dan sebelah Barat kali Cipunagara. Dalam hal ini kecuali Onder Distrik Gandasoli, sekarang Kecamatan Plered pada waktu itu termasuk Kabupaten Bandung. Sebagai Bupati I Kabupaten Karawang yang dihidupkan kembali diangkat R.A.A. Surianata dari Bogor dengan gelar Dalem Santri yang kemudian memilih ibu kota Kabupaten di Wanayasa.

    Pada masa pemerintahan Bupati R.A. Suriawinata atau Dalem Sholawat, pada tahun 1830 ibu kota dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih, yang kemudian diberi nama “PURWAKARTA” yang artinya Purwa: permulaan, karta: ramai/hidup. Diresmikan berdasarkan besluit (surat keputusan) pemerintah kolonial tanggal 20 Juli 1831 nomor 2.

    Pembangunan dimulai antara lain dengan pengurugan rawa-rawa untuk pembuatan Situ Buleud, Pembuatan Gedung Keresidenan, Pendopo, Mesjid Agung, Tangsi Tentara di Ceplak, termasuk membuat Solokan Gede, Sawah Lega dan Situ Kamojing. Pembangunan terus berlanjut sampai pemerintahan Bupati berikutnya.

  • PASCA KEMERDEKAAN

    PEMBAGIAN WILAYAH PEMERINTAHAN DARI TAHUN 1945-1999

    Kabupaten Karawang dengan ibu kotanya di Purwakarta berjalan sampai dengan tahun 1949. Pada tanggal 29 Januari 1949 dengan Surat Keputusan Wali Negeri Pasundan Nomor 12, Kabuapten Karawang dipecah dua yakni Karawang Bagian Timur menjadi Kabupaten Purwakarta dengan ibu kota di Subang dan Karawang Bagian Barat menjadi Kabupaten Karawang. Berdasarkan Undang-undang nomor 14 tahun 1950, tentang pembentukan daerah kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Barat, selanjutnya diatur penetapan Kabupaten Purwakarta, dengan ibu kota Purwakarta, yang meliputi Kewedanaan Subang, Sagalaherang, Pamanukan, Ciasem dan Purwakarta.

    Pada tahun 1968, berdasarkan Undang-undang No. 4 tahun 1968 tentang Pembentukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang SK Wali Negeri Pasundan dirubah dan ditetapkan Pembentukan Kabupaten Purwakarta dengan Wilayah Kewedanaan Purwakarta di tambah dengan masing-masing dua desa dari Kabupaten Karawang dan Cianjur. Sehingga pada tahun 1968 Kabuapten Purwakarta hanya memiliki 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Purwakarta, Plered, Wanayasa dan Campaka dengan jumlah desa sebanyak 70 desa. Untuk selanjutnya dilaksanakan penataan wilayah desa, kelurahan, pembentukan kemantren dan peningkatan status kemantren menjadi kecamatan yang mandiri. Maka saat itu Kabupaten Purwakarta memiliki wilayah: 183 desa, 9 kelurahan, 8 kamantren dan 11 kecamatan.

    Berdasarkan perkembangan Kabupaten Purwakarta, pada tahun 1989 telah dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: 821.26-672 tanggal 29 Agustus 1989 tentang lahirnya lembaga baru yang bernama Wilayah Kerja Pembantu Bupati Purwakarta Wilayah Purwakarta yang meliputi Wilayah Kecamatan Purwakarta, Kecamatan Jatiluhur, Kecamatan Campaka, Perwakilan Kecamatan Cibungur yang pusat kedudukan Pembantu Bupati Purwakarta berada di Purwakarta. Sedangkan wilayah kerja Pembantu Bupati Wilayah Plered meliputi wilayah Kecamatan Plered, Kecamatan Darangdan, Kecamatan Tegalwaru, Kecamatan Maniis, Kecamatan Sukatani yang pusat kedudukan Pembantu Bupati Purwakarta berada di Plered. Wilayah kerja Pembantu Bupati Wilayah Wanayasa yang meliputi Kecamatan Wanayasa, Kecamatan Pasawahan, Kecamatan Bojong, Perwakilan Kecamatan Kiarapedes, Perwakilan Kecamatan Margasari, dan Perwakilan Kecamatan Parakansalam yang pusat kedudukan Pembantu Bupati Purwakarta Wilayah Wanayasa berada di Wanayasa yang telah diresmikan pada tangga 31 Januari 1990 oleh Wakil Gubernur Jawa Barat.
    Setelah diberlakukannya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, serta dimulainya pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Purwakarta tepatnya pada tanggal 1 Januari 2001. Serta melalui Peraturan Daerah No. 22 tahun 2001, telah terjadi restrukturisasi organisasi pemerintahan di Kabupaten Purwakarta. Jumlah Dinas menjadi 18 Dinas, 3 Badan dan 3 Kantor serta Kecamatan berjumlah 17 buah, Kelurahan 9 buah dan desa 183 buah.

Published in: on April 13, 2008 at 2:26 am Leave a Comment

Jatiluhur

  • Bendungan Jatiluhur, merupakan sebuah karya besar bangsa Indonesia. Dibangun saat negeri ini baru merdeka dan belum bisa dikatakan mampu dalam segi finansial. Namun keberadaannya sangat diharapkan, termasuk menyediakan perbekalan air untuk kapal-kapal dagang asing yang bersandar di Tanjung Priok saat itu.

    Bangunan monomental itu kini terus diandalkan sebagai tandon utama untuk kebutuhan air kota Jakarta dan sekitarnya. Berikut sejarah keberadaannya termasuk tokoh-tokoh yang berperan dalam pembangunannya;

    BENDUNGAN Jatilubur yang dibangun pada sungai Citarum di daerah Kab. Purwakarta, Jawa Barat merupakan bangunan pengairan paling membanggakan bagi bangsa Indonesia. Bahkan bukan hanya membanggakan, melainkan juga luhur. Bendungan Jatiluhur dibangun tabun 1957 saat pemerintah RI belum bisa dikatakan mampu dalam segi financial. Bendungan ini mulai dioperasikan tahun 1967. Pemanfaatan utama mula-mula untuk pembangkit tenaga listrik, namun kemudian konsep pembangunannya diintegrasikan untuk pemanfaatan segala keperluan sektor-sektor yang menyangkut air.

    Membanggakan, karena pada awal pembangunannya kondisi keuangan negara saat itu yang baru memasuki era kemerdekaan sudah berhasil memulai proyek besar dengan SDM di bidang teknik yang juga masih sangat minim. Jadi, Jatiluhur merupakan proyek pengairan terbesar yang pernah dikerjakan bangsa ini dan ditangani langsung oleh teknisi-teknisi bangsa sendiri. Luhur, karena di sana terdapat bangunan-bangunan yang disimbolkan sebagai angka keramat bangsa Indonesia, yaitu 17-8-45. Ini merupakan kreasi seorang tokoh paling ber-peran dalam proyek ter-sebut, Prof. Dr. Ir. Sediyatmo.

    Pompa hidrolik yang terkenal dengan paten atas namanya, untuk Saluran Tarum Barat berjumlah 17 buah. Pilar pemegang pintu pengatur untuk meneruskan aliran ke daerah Walahar beserta menaranya, berjumlah 8 buah. Sedangkan angka 45 ditunjukkan pada pembangunan pompa-pompa listrik untuk Saluran Tarum Timur, agar lebih efisien dan efektif, dibuat miring 45 derajat.

    Harus Jatiluhur.

    Sebenarnya, ide untuk pengembangan sungai Citarum, salah satu sungai terbesar di Jawa Barat itu ada sejak tahun 1948. Ketika itu, Prof. Ir. W.J. van Blommestein, Kepala Perencanaan Jawatan Pengairan Belanda sudah membuat rencana pembangunan tiga waduk besar di sepanjang aliran sungai Citarum; Saguling, Citara dan Jatilubur. Meski kedatangan Belanda kembali ke Indonesia waktu itu, Jawatan Pengairan pemerintahan RI sendiri sudah ada. Namun belum bisa berbuat banyak, karena Dep. PU waktu itu hanya memiliki 15 orang insinyur. Meski plan itu sudah ada, namun Belanda tidak sempat mengembangkannya, keburu Jepang datang menggantikan posisinya sebagai penjajah.

    Gagasan untuk membangun sebuah bendungan di aliran sungai Citarum dirintis kembali pada era tahun 1950-an. Ir. Agus Prawiranatasebagai Kepala Jawatan Irigasi waktu itu mulai memikirkan pengembangan jaringan irigasi untuk mengantisipasi kecukupan beras dalam negeri. Ketika itu, Indonesia sudah menjadi negara – pengimport beras terbesar dunia. Namun untuk membangun bendungan dengan skala besar, ketika itu masih menjadi – bahan tertawaan -. “Wong duitnya saja belum ada, kok mau membangun bendungan besar, negara i’~i 1ca’~ baru saja merdelca,” kata Prof. DR. Ir. P.K. Haryasuclirja, orang yang dulunya banyak terlibat pembangunan bendungan Jatiluhur ini kepada Warta PERDESAAN belum lama ini. Dana PLN. Lalu ide ini dirembug bareng bersama Ir. Sedyatmo, yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Direksi Konstruksi Badan PembangLit Listrik Negara, Direktorat Jenderal Kete-nagaan, Departemen PUT. Kebetulan waktu itu PLN punya anggaran dan memang sedang berupaya mencari mengganti sumber daya listrik yang

    masih menggunakan minyak, karena memang mahal.Lalu, Ir. Sediyatma, menugaskan Ir. PC. Harjosudirdjo (sekarang; Prof. DR. Ir. P.K. Haryasudirja) ketika itu sebagai Asisten Kepala Direksi Konstruksi 13PLN, untuk merancang bendungan Jatiluhur ini. Mengapa

    harus Jatiluhur ? Padahal di aliran sungai Citarum kan ada plan untuk tiga buah bendungan (Saguling, Cirata dan Jatiluhur). Dipilihnya Jatilubur, menurut Prof. DR. Ir. P.K. Haryasudirja, yang ditemui baru- baru ini, alasannya Jatiluhur lebih dulu dibangun punya banyak I

    kelebihan. Baik dari segi keamanan, keperluan listrik, dan keperluan air lainnya. Aman, menurut Haryasudirja, karena sewakfu dilakukan pengL~-kuran di daerah Kiara Condong, Band~mg untuk rencana membangun bendungan di daerah paling hulu, yaitu Saguling banyak tenaga penguLuran yang tewas diserang gerombolan. Kemudian pengukural~ dilakukan pada daerah yang lebih hilir, yaitu untuk bendungan Cirata, hal sama juga dialami oleh para pelaksana lapangan. Kemudian, dipiliblah Jatilubur Selain lebih aman, bendungan ini juga dapat dimanfaatLan untuk memberi suplai air pada bendung Walahar yang sudah dibangun oleh Belanda untuk mengairi sawah seluas 80 ribu hektar, kbususnya untuk musim kemarau. Suplai Air ke Pelabuhan Hal penting yang juga menjadi pertimbangan saat itu, menurut Prof. DR. Ir. P.K. Haryasudilja, ketika itu sebagai Asisten Urusan Jatiluhur yang menanganai urusan perenca-naan maupun pelaksanaan pemba-

    ngunannya, adalah pertimbangan suplai air ke Jakarta. Ketika itu pelabuhan Tanjung Priok tak pernah disinggahi kapal-kapal asing, karena tidak cukup air untuk perbekalan kapal-kapal dagang itu. Sehingga kegiatan ekspor-import dari Tanjung Priok tersendat. Haryasudirja yang membuat spesifikasi bendungan Jatilubur, mengaku meniru gaya bendungan terbesar di dunia, yaitu bendungan Aswan di Mesir. Menggunakan konsultan dari Perancis yang sudah berpengalaman dalam membangun bendungan besar. Selain untuk pembangkit listrik dibangunnya Jatiluhur untuk mengairi irigasi persawahan daerah Jawa Barat seluas 240 ribu hektar. Namun kendala yang dihadapi ketika itu, harus meninggikan kembali air kucuran dari bendungan Jatiluhur bila digunakan untuk keperluan lain selain pembangkit listrik. Pasalnya Ir. P.C. Haryasudilja yang juga sebagai penentu desain dari waduk Jatiluhur, mencari tenaga yang sebesar-besarnya untuk membangkitkan turbin listrik. Listrik yang didapat memang cukup banyak, lalu bagaimana dengan air untuk pemanfaatan irigasi sawah ? Maka dibuat lagi bendung di daerah Curug. Untuk mengairi ke daerah timur terpaksa air dinaikkan dengan menggunakan pompa listrik. Namun untuk yang ke Barat, Prof.Ir. Sedyatmo telah merancang pompa yang juga menggunakan tenaga air, yang kemudian dikenal dengan nama “Pompa Sedyatmo” untuk menaikkan air ini ke saluran Tarum Barat, sepanjang 90 Km termasuk untuk air baku kota Jakarta dan sekitarnya. Integrasi. Luas daerah aliran Waduk Jatiluhur mencakup 4.500 km2. Dalam segi jaringan irigasi, tentu sangat spektakuler, membentang dari daerah Bandung sampai pantai utara

    pulau Jawa. Proyek Jatilibur juga men dem onstrasikan pen ginte gr asian beberapa sungai untuk suatu jaringan irigasi yang terpadu. Sungai-sungai penting itu diantaranya, Sungai Ciliwung, Sungai Bekasi, Sungai Cikarang, Sungai Cibeet, Sungai Citarum sebagai sumber air utama, Sungai Cilamaya, Sungai Ciasem, Sungai Cipunegara. Ada dua cara pengintegrasian. Pertama; yang diterapkan pada sungai-sungai Ciliwung, Bekasi, Cikarang dan Cipunegara, adalah dengan memasukkan aliran air dari Jatiluhur ke dalam sungai-sungai tersebut melalui Saluran Induk Tarum. Kemudian aliran sungai-sungai yang sudah ditambah debitnya itu disadap oleh saluran induk di bagian hilir melalui ben-dung-bendung yang dibangun pada sungai-sungai bersangLutan. Ada juga pada tempat-tempat tertentu aliran sungai-sungai tersebut langsung disadap untuk di-manfaathan. Cara 1cedua, seperti pada su-ngai-sungai Cibeet, Cilamaya dan Ci-asem, adalah dengan membuat

    bendung di hulu persilangan sungai-sungai itu dengan saluran induk dari Jatiluhur. Kemudian air dialirkan melalui saluran induk masing-masing untuk dimanfaatLall. Jaringan irigasi Jatilubur yang kemudian terbentuk meliputi delapan daerah irigasi. Yaitu Daera Irigasi (DI) Bekasi, DI Cikarang, Dl Cibeet, DI Tarum Tengall, Dl Cilamaya, DI Ciasem, DI Cipunegara, serta daerah irigasi yang langsung mendapat oncoran dari Saluran Induk Tarum Barat dan dari Saluran Induk Tarum Timur. Perlu dicatat untuk Daeral1 Irigasi Elekasi. Ini semula merupakan irigasi para tuan tanah. Sebuah bendung gerak yang dibangull di kota Elekasi dibangun untuk me-nyadap aliran Sungai Bekasi dan selanjutnya digunakan ulltuk m~-nyatukan jaringan irigasi tuan tanal1 tersebut menjadi satu jaringan irigasi teknis. Satu hal lagi yang s`~gat yerlting adalah, baLwa air baku untuk keperluan air minum bagi warga k~ ~ ~ Jakarta pun berasal dari jilri!l’,.U’ Waduk iatittlhUr, vaitt] ~i~latui

    sadapan di bendung gerak di kota Bekasi itu. Dari Komando Kembali ke Proyek. Masa pembangunan Proyek Jatiluhur juga unik, sebab sempat mengalami sembilan kali pergantian kabinet dari Kabinet Karya tabun 1957 sampai Kabinet Ampera tahun 1967. Pada masa Kabinet Dwikora 100 Menteri, pembangunan jaringan pengairan Jatiluhur sempat ditangani oleh dua bnah Komando, yaitu Komando Proyek Pengairan Induk Jatiluhur (KOPPINJAT), dan Ko-mando Proyek Pengairan Pelengkap Jatilubur (KOPPELJAT). KOPPINJAT menangani pem-bangunan Saluran Induk Timur sepanjang 67 km dan Saluran Induk Barat 70 km, serta bangunan-bangunan yang berada pada kedua saluran induk baik berupa syphon, bendung, dan lainnya. Sedangkan KOPPELJAT menangani pemba-ngunan di luar yang dikerjakan KOPPINJAT. Adanya dua komando tersebut barangkali merupakan pengalaman yang kurang efektif. Apalagi keduanya berada di bawah depar-temen yang berbeda. KOPPINJAT di bawah Departemen Pengairan Dasar,

    sedangkan KOPPELJAT berada di bawah Departemen Pengairan Rakyat. Namun akhirnya, karena perkembangan politik den terjadi kesulitan pada Departemen Pe-ngairan Rakyat, make KOPPELJAT pun dilimpaLkan yaitu Proyek Iri-gasi Jatiluhur PROpTeUr~jAaTIII,nan ~DD I. I t”t ail A Juror 1lgus sebaga1 pe-melihara seluruh

    fasilitas bangunannya. Sebagai waduk serbaguna, penerima manfaat terbesar air Waduk Jatilubur adalah para petani yang memanfaatkannya untuk irigasi. Meski pada mulanya BPLN yang membiayai pembangunan ben-dungan serba guna ini, namun pemanfaatan airnya pihak PLN kini juga dikenakan iuran terhadap penggunaan air tersebut. Juga pihak pemanfaat lainnya seperti pihak perusahaan air minum PAM Jaya. Wajar bila kepada mereka dikenakan “iuran” yang propor-sional guna melaksanakan usaha Operasi dan Pemeliharaan bagi Waduk Jatiluhur. Seirama dengan perkem-bangan jaman, baLkan saat ini Perum Otorita Jatiluhur semakin dimatangkan kinerjanya. Dan dibentuk menjadi Jasa Tirta II, agar upayanya dalam mengelola air untuk berbagai keperluan semakin profesional.

Published in: on at 2:26 am Leave a Comment

Obyek Wisata

OBYEK WISATA ALAM 1. Pariwisata Jatiluhur

    Obyek wisata Jatiluhur terletak 9 km dari kota Purwakarta, terkenal dengan Bendungan Ir. H. Juanda, dengan panorama danau yang luasnya 8.300 ha. Bendungan ini mulai dibangun sejak tahun 1957, dapat menampung tidak kurang 3 milyar3 air Sungai Citarum dan merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia. Di dalamn Bendungan Ir. H. Juanda, terpasang 6 unit turbin dengan daya terpasang 187 MW dan produksi tenaga listrik rata-rata 1000 juta kwh setiap tahun. Selain dari itu, memiliki fungsi penyediaan air irigasi untuk 242.000 ha sawah (dua kali tanam setahun), air baku air minum, budi daya perikanan dan pengendali banjir. Selain berfungsi sebagai PLTA dengan sistem limpasan terbesar di dunia, kawasan Jatiluhur memiliki banyak fasilitas rekreasi yang memadai, seperi hotel dan bungalow, bar dan restaurant, lapangan tenis, bilyard, perkemahan, kolam renang, ruang pertemuan, sarana rekreasi dan olahraga air, playground dan fasilitas lainnya. Sarana olahraga dan rekreasi air misalnya mendayung, selancar angin, kapal pesiar, ski air, boating dan lainnya. Di perairan Danau Jatiluhur ini juga terdapat Budi daya Ikan Keramba Jaring Apung, yang menjadi daya tarik tersendiri. Di waktu siang atau dalam keheningan malam kita dapat memancing penuh ketenangan sambil menikmati ikan bakar. Dikawasan ini pula kita dapat melihat Stasiun Satelit Bumi yang dikelola oleh PT. Indosat, sebagai alat komunikasi internasional. Jenis layanan yang disediakan antara lain international toll free service (ITFS), Indosat Calling Card (ICC), international direct dan lainnya. Terletak 7 km dari kota Purwakarta.

2. Pariwisata Danau Cirata

    Cirata, selain berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air, danau yang luasnya 62 km2 dan berketinggian maksimum 220 m di atas permukaan laut itu dikelilingi bukit. Proyek Induk Pembangkit Hidro Jawa Barat (Pikitdro Jabar) adalah Unit PLN yang menangani Proyek PLTA Cirata menghasilkan listrik 1008 MW dan dapat membangkitkan energi listrik rata-rata-rata sebesar 1.428 juta kilowatt/jam per tahun. Bila melakukan perjalanan dari kota Purwakarta melalui Plered kita akan tiba di Cirata dalam waktu kira-kira 40 menit dengan jarak sejauh 15 km. Dalam perjalanan itu kita akan melewati pusat perdagangan peuyuem Bendul dan makanan khas Purwakarta lainnya, dan kemudian kita akan lewat di Sentra Indutri Keramik Plered, juga dapat menikmati keindahan alam di sepanjang jalan Plered-Cirata. Daya tarik lainnya dari Danau Cirata ini adalah delapan buah turbin dan gedung sentral/Power House 4 lantai berada di terowongan bawah tanah, yang pengoperasiannya dikendalikan dari ruang kontrol Switchyard berjarak ± 2 km dari mesin-mesin pembangkit yang terletak di Power House. Danau ini sangat berpotensi untuk melakukan pengembangan perikanan, ini terbukti berdasarkan hasil sensus tahun 1999 terdapat 27.906 petak kolam jaring apung (KJA). Perikanan keramba ini berlokasi di Kecamatan Maniis, 17 km dari kota Purwakarta.

3. Situ Wanayasa

    Wanayasa terletak 23 km dari kota Purwakarta, dengan udara yang sejuk berlatar belakang gunung Burangrang, sehingga Situ Wanayasa yang luasnya 7 ha begitu menyatu dengan alam. Situ Wanayasa dan sekitarnya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi Taman Rekreasi dan Desa Wisata. Sekitar 8 km dari Situ Wanayasa terdapat sumber air panas Ciracas yang berlokasi di tengah hamparan persawahan yang indah dengan udara yang sejuk. Potensi obyek wisata Sumber Air Panas Ciracas dapat dikembangkan berbagai fasilitas antara lain hotel, bungalow, kolam renang dan sarana rekrasi lainnya. Selain itu terdapat air terjun Curug Cipurut yang merupakan suatu tempat yang nyaman untuk rekrasi baik hiking maupun camping ground. Menuju lokasi Curug Cipurut, ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang ± 3 km ke arah Selatan kota Wanayasa. Selain dari itu kita dapat melakukan agro wisata di Wanayasa, karena dengan kesejukan udara dan hamparan panorama alam yang indah dari perkebunan teh, manggis dan perkebunan pala, kita sekeluarga dapat melakukan kegiatan `garden party’ sambil menimati makanan khas dengan pala, maranggi dan memetik buah mnggis. Obyek-obyek wisata ini, menanti pengembangan dari pihak investor.

4. Situ Buleud

    Situ Buleud (bundar) luasnya 4 ha terletak di tengah kota dengan latar belakang gedung kuno Kresidenan. Konon menurut cerita, Situ Buleud tempo dulu merupakan tempat “pangguyangan” (mandi) binatang Badak sewaktu Purwakarta dulu masih hutan belantara, dan kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dijadikan sebagai tempat peristirahatan pelepas lelah sehabis bekerja. Situ Buleud dirintis pembangunannya sekitar tahun 1830 oleh RA. Suriawinata, pendiri cikal bakal kota Purwakarta. Kini obyek wisata Situ Buleud menjadi tempat rekreasi dan olah raga penduduk Purwakarta. Di masa yang akan datang diharapkan Situ Buleud menjadi Taman Kota yang indah, sebagai paru-paru kota dan obyek wisata. Untuk itu diharapkan ada investor yang akan menanamkan modalnya disini.

OBYEK WISATA BUDAYA 1. Gedung Negara

    Gedung Negara yang dibangun semasa zaman kolonial Belanda tahun 1854 dengan gaya arsitektur Eropa, kini berdiri megah sebagai Kantor Bupati Kabupaten Purwakarta, tepatnya di Jalan Gandanegara No.25. Disamping gedung ini arsitekturnya antik, juga memiliki nilai sejarah perjuangan bagi masyarakat Purwakarta, baik di masa Pemerintahan kolonial Belanda maupun Pemerintahan Jepang.

2. Gedung Kresidenan

    Gedung kuno kresidenan dengan arsitektur Eropa yang antik, kini terpelihara dengan baik dan diperkirakan dibangun tahun 1854 semasa pemerintahan kolonial Belanda. Kini Gedung kuno tersebut menjadi Kantor Badan Koordinasi Wilayah IV Purwakarta dan terletak di Jalan KK. Singawinata.

3. Mesjid Agung Purwakarta

    Di samping Gedung Negara terdapat Mesjid Agung yang dibangun pada zaman kolonial Belanda pada tahun 1826 M. Atas dorongan dan keinginan masyarakat Purwakarta, Bupati Purwakarta Bapak Drs. H. Bunyamin Dudih, SH, menjadi Ketua Panitia Pembangunan Mesjid Agung Purwakarta. Pada tanggal 25 Juli 1993 mulai dipugar dengan tetap mempertahankan bentuk asli dan nilai sejarahnya. Kemudian Mesjid Agung Purwakarta diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat pada tanggal 16 Januari 1995.

4. Sentra Pembuatan Keramik Plered

    Pembuatan keramik Plered berlangsung turun temurun diperkirakan sejak tahun 1904, sehingga menghasilkan mutu keramik yang baik dan diekspor antara lain ke Jepang, Belanda, Thailand, Singapura dan negara-negara lainnya. Jenis keramik Plered adalah gerabah, terakota dan porselen. Jumlah pengusaha keramik Plered kira-kira 80 unit usaha.Terletak di Desa anjun, 13 km dari kota Purwakarta.

5. Industri Kain Songket

    Kain Songket Purwakarta diproduksi sejak tahun 1956 oleh PT Sinar, terletak di dalam kota Purwakarta. Jenis kain songket antara lain songket Parahyangan `Tjitraresmi’, sarung tenun dan taplak meja, Dayang Sumbu dan lainnya, diekspor ke Brunai dan untuk konsumsi dalam negeri dengan produksi rata-rata 60.250 potong per-tahun.

6. Kesenian Daerah

    Kesenian Buncis dan Domyak merupakan kesenian khas Purwakarta, terdapat pula jenis kesenian wayang golek, celempungan, tari-tarian, degung, ketuk tilu, jaipongan, tungbrung, reog, calung dan kesenian-kesenian daerah lainnya.

7. Makanan Khas dan Cinderamata

    Simping, Peuyeum Bendul, gula Cikeris, manisan pala, the hijau, colenak, sate maranggi, opak dan lainnya. Cinderamata bagi kenang-kenangan kunjungan anda antara lain keramik Plered, kain Songket, wayang golek, kerajinan bambu, dan lain-lainnya.

WISATA ZIARAH Tokoh Islam yang mewarnai sejarah Purwakarta, dapat ditelusuri melalui tempat ziarah, yaitu: 1. Makam RA. Suriawinata

    Makam pendiri kota Purwakarta, yaitu R. Aria Suriawinata yang meninggal tahun 1827, beliau Bupati Karawang yang ke-9, letaknya di tengah-tengan Situ Wanayasa, 25 km dari Kota Purwakarta.

2. Makam Keramat Baing Yusuf

    Terletak di belakang Mesjid Agung Purwakarta, yang meninggal pada tahun 1856. beliau seorang tokoh agama Islam yang disegani sehingga banyak yang melakukan ziarah ke makamnya.

3. Makam Keramat Sempur

    Makam keramat Sempur adalah Makam Mama Sempur, seorang tokoh agama Islam yang disegani dan terkemuka, sehingga sekarang banyak pengunjung berziarah ke makam tersebut. Letaknya di Sempur-Plered, 14 km dari kota Purwakarta.
Published in: on at 2:24 am Leave a Comment

Kuliner,Sekolah,dll Yang ada di Purwakarta

Berikut ini adalah nama nama Sekolah, Perguruan Tinggi, Rumah Sakit dll yang ada di Purwakarta.

Sekolah

TK Iqro Jl.Ibrahim Singadilaga

TK An Nur Komp Griya Asri

TK Al Muhajirin

SD Negeri Sudirman 8 Purwakarta

SD Negeri Sudirman 1 Purwakarta

SMP Negeri 1 Purwakarta

SMP Negeri 2 Purwakarta

SMP Negeri 3 Purwakarta

SMP Negeri 4 Purwakarta

SMP Negeri 5 Purwakarta

SMP Negeri 6 Purwakarta

SMP Negeri 7 Purwakarta

SMP Negeri 8 Purwakarta

SMP Yos Sudarso

SMA Negeri 1 Purwakarta

SMA Negeri 2 Purwakarta

SMA Negeri 3 Purwakarta

SMK YKS

SMK YPK

SMK Bina Taruna

SMK Negeri

SMK PN

SMK FArmasi

Perguruan Tinggi

  • Purwakarta Hotel School, Jln Ahmad Yani

  • Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jln Veteran

  • Universitas Purwakarta, Jln Basuki Rahmat

  • STIE Wikara, Jln Ahmad Yani

  • STT Wastukancana, Jln Sudirman

  • Sekolah Kebidanan Bhakti Asih, Jln Veteran

  • Polibisnis Perdana Mandiri

Perumahan

  • Buana Indah, Jln Veteran

  • Bukit Panorama Indah, Jln Veteran

  • Bumi Jaya Indah, Jln Ipik Gandamana

  • Dian Anyar, Jln Ipik Gandamana

  • Graha Mutiara, Jln Ipik Gandamana

  • Griya Asri, Jln Veteran

  • Munjul Jaya Permai, Jln Ipik Gandamana

  • Oesman Singadilaga, Jln Veteran

  • Sadang Sari Permai, Jln Veteran

  • Bukit Berbunga Ciganea

Pusat Perbelanjaan

  • Pelangi Plaza (Giant), Jln Taman Pahlawan

  • Yogya Departemen Store, Jln Sudirman

  • Sadang Terminal Square

Rumah Bersalin

  • Asri, Jln Veteran

  • Kemala Dewi, Jln Veteran

  • Sayang Bunda, Jln Ibrahim Singadilaga

Rumah Sakit

  • Bayu Asih, Jln Veteran

  • Aqma, Jln Ipik Gandamana

  • Efarina Etaham Jl.Raya Cibungur

  • Holistik Jl.Raya Wanayasa

  • RS Thamrin ( Coming Soon )

Kuliner

  • Ibu Haji Ciganea, Jln Veteran

  • Sedap, Jln Sudirman

  • Soto Sadang, Jln Veteran

  • Dapur Kuring (FoodCourt)

  • Alam Sari (Komplek BIC)

  • Baso Nano

  • Baso Alok

  • Mie Ayam Pedo

  • Koka

  • Sendok Garpu

  • Sate Anwar

  • Sate H.Oking

  • RM Pondok Kelapa

  • Es Ciming

Warung Internet :

  • Corenet Jl.Veteran ( Depan UPI PGSD Kampus Purwakarta )

  • Warnet Telkom

  • Warnet Ihsan

  • Kodanet

  • M3

  • Trixie

  • Datanet

  • Borni

Radio :

  • K-FM

  • Trend FM

  • Populer FM

  • P Radio

  • A&T

Published in: on at 2:22 am Leave a Comment

Sekilas Purwakarta

Kabupaten Purwakarta, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia terletak ±80 km sebelah timur Jakarta. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Karawang di bagian Barat dan sebagian wilayah Utara, Kabupaten Subang di bagian Utara dan sebagian wilayah bagian Timur, Kabupaten Bandung di bagian Selatan, dan Kabupaten Cianjur di bagian Barat Daya.

Kabupaten Purwakarta berada pada titik-temu tiga koridor utama lalu-lintas yang sangat strategis, yaitu Purwakarta-Jakarta, Purwakarta-Bandung dan Purwakarta-Cirebon.

Luas wilayah Kabupaten Purwakarta adalah 971,72 km2 atau sekitar 2,81% dari luas wilayah Provinsi Jawa Barat berpenduduk 782.262 jiwa (Sensus penduduk tahun 2005) dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 2,42% per-tahun.

Kabupaten Purwakarta memiliki motto Wibawa Karta Raharja. “Wibawa” berarti berwibawa atau penuh kehormatan, “Karta” berarti ramai atau hidup, dan “Raharja’ berarti keadaan sejahtera atau makmur. Sehingga “Wibawa Karta Raharja” dapat diartikan sebagai daerah yang terhormat/berwibawa, ramai/hidup, serta makmur atau sejahtera.

Purwakarta berasal dari suku kata “purwa” yang artinya permulaan dan “karta” yang berari ramai atau hidup. Pemberian nama Purwakarta dilakukan setelah kepindahan ibukota Kabupaten Purwakarta dari Wanayasa ke Sindang Kasih.

Peristiwa kepindahan ibukota kabupaten ini setiap tahunnya diperingati pada tanggal 20 Juli dengan melakukan napak tilas dari Wanayasa ke Sindang Kasih.

Provinsi Jawa Barat Ibu kota Purwakarta Luas 971,72 km² Penduduk · Jumlah 782.262 jiwa (2005)  · Kepadatan 805,03 jiwa/km² Pembagian administratif · Kecamatan 17  · Desa/kelurahan 192 Dasar hukum UU No.4 Thn 1968 tentang Pembentukan Kab. Purwakarta dan Kab. Subang TanggalHari jadi {{{hari jadi}}} Bupati H Dedi Mulyadi, SH Kode area telepon 0264 APBD {{{apbd}}} DAU Rp. –

Berikut ini adalah beberapa kecamatan yang ada di Purwakarta:

Plered, Purwakarta

Plered adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat yang sudah lama terkenal sebagai sentra industri keramik.

Keramik yang dihasilkan selain untuk pasar dalam negeri juga sebagai komoditi ekspor ke manca negara.

Luas 2.966,4527 ha Jumlah penduduk 63.672 jiwa  - Kepadatan 496 jiwa/km² Desa/kelurahan 16

Wanayasa, Purwakarta

Wanayasa adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Karena letaknya yang berada di ketinggian menjadikan daerah ini berhawa sejuk.

Di Kecamatan Wanayasa terdapat danau yang dijadikan obyek wisata dan tempat memancing.

Luas 5.476,835 ha Jumlah penduduk 34.972 jiwa  - Kepadatan 594 jiwa/km² Desa/kelurahan 15

Bojong, Purwakarta

Bojong adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Luas 6.869,634 ha Jumlah penduduk 40.974 jiwa  - Kepadatan 5,5 jiwa/km² Desa/kelurahan 14

Cibatu, Purwakarta

Luas 4.609,560 ha Jumlah penduduk 24.407 jiwa  - Kepadatan 498 jiwa/km² Desa/kelurahan 10

Campaka, Purwakarta

Luas 4.589,810 ha Jumlah penduduk 31.911 jiwa  - Kepadatan 6,39 jiwa/km² Desa/kelurahan 10

Maniis, Purwakarta

Luas 5.191,692 ha Jumlah penduduk 27.199 jiwa  - Kepadatan 206 jiwa/km² Desa/kelurahan 8

Published in: on at 2:19 am Leave a Comment